Headlines :
1 2 3 4 5

tarbiyah

More Article »

17/07/09

Kapitalisasi Pendidikan



Tahun ajaran baru pendidikan segera tiba, lembaga-lembaga penyelenggara pendidikan mulai mempersiapkan diri untuk menerima murid-murid yang bakal menjadi penghuni sekolah. Empat bulan sebelum dimulainya tahun ajaran baru, sekolah-sekolah pavorit telah membuka pendaftaran. Persaingan untuk medapatkan pendaftar sebayak-banyaknya berlangsung secara ketat. Panitia peneriamaan siswa baru mulai sibuk menggencarkan promosi besar-besaran dengan bahasa-bahasa memikat , mulai dari pemasangan baligo di titik-titik strategis, penempelan pamplet di setiap penjuru kota, mencetak ribuan brosur, menyewa space banner iklan di website-website terkenal. Media masa seperti koran, majalah, radio bahkan televisi kerap dijadikan sasaran untuk mengiklankan sekolah tersebut, tak peduli berapa pun tarifnya.

Tentunya ini memerlukan biaya yang sangat tinggi, puluhan bahkan ratusan juta rupiah, terlebih untuk biaya promosi biasanya memakan dana hampir dua pertiga dari keseluruhan anggaran dalam proposal. Namun ini tidaklah menjadi persoalan, terutama bagi sekolah-sekolah favorit karena sekolah mempunyai harapan bahwa uang yang dikeluarkan akan kembali dari biaya pendaftaran setiap calon siswa yang lumayan tinggi.

Walhasil, spekulasi ini meraup keuntungan yang sangat besar, biaya yang dikelurkan tidak sia-sia karena kembali dengan laba yang besar, lelah panitia pun terobati. Sekolah jadi kaya mendadak, kelimpahan berkah agenda tahunan ini. Banyak sekolah-sekolah favorit mendapatkan untung sampai puluhan juta rupiah.

Penomena yang luar biasa, sekolah yang sejatinya adalah lembaga untuk mencetak anak-anak bangsa agar berbudi pekerti yang luhur, berakhlakul karimah, dan menjadi manusia berintelektual, kini sekolah dijadikan mesin pencetak uang. Tidak aneh ketika ada teman saya yang nyeletuk “eh mendingan kita buat sekolah aja, biar cepet kaya.”

Sekolah dijadikan ladang bisnis oleh sebagian orang yang ingin menambah penghasilan, baik guru ataupun karyawan. Sebutan guru ‘diktator’ (jual diktat beli motor) disematkan kepada guru yang suka menjual diktat pelajaran dengan harga tinggi. Ketika dulu di SMP tempat saya belajar, ada banyak guru yang seperti ini. Bahkan suatu kali seorang guru mata pelajaran tidak memberikan nilai ulangan saya hanya gara-gara saya tidak membeli diktat dari beliau. (kasian deh aku…..)

Sudah hal yang lumrah ketika kita berbicara pendidikan, kita akan dibenturkan masalah biaya. Pihak sekolah akan beralasan bahwa pendidikan membutuhkan biaya operasional seperti bangunan, gaji guru dan karyawan, biaya kegiatan siswa, SPP, buku, dll. Memang ini adalah hal yang wajar bagi setiap lembaga sekolah sebagai penopang penyelenggaraan pendidikan. Namun jika biaya operasional ini diada-ada dengan membengkakan anggaran, maka harga pendidikan menjadi mahal dan akhirnya pendidikan hanya akan dinikmati oleh orang-orang yang mampu membayarnya saja. Orang tua yang kurang mampu hanya bisa berangan-angan saja. Banyak mutiara anak bangsa yang tergilas oleh arus kapitalisasi pendidikan ini.



Kapitalisasi pendidikan di negeri ini sudah akut, tidak sedikit sekolah yang sudah tidak lagi mengutamakan mutu pendidikan, sekolah mengalami disorientasi. Orientasi materi mendominasi di belakang megahnya bangunan sekolah. Penyeleksian siswa pun tak lebih sekedar formalitas saja, karena ujung-ujungnya yang lulus adalah anak yang orang tuanya dapat berkontribusi materi paling besar, tnapmenghiraukan kemampuan si anak.

Di sisi lain, ambisi orang tua juga terlalu besar. Orang tua seringkali tidak melihat kemampuan anak. Inginnya, diterima di sekolah favorit untuk menaikkan gengsi. Padahal anak didik tidak punya kemampuan seperti itu. Akibatnya, “uang yang berbicara”. Dampaknya, anak tersebut susah mengikuti pelajaran seperti anak-anak lainnya. Kasus “anak titipan” terjadi karena orang tua menganggap bahwa sekolah itu “bisa dibeli”. Tak lain, karena kapitalisasi pendidikan sudah sedemikian akut, bukan hanya masalah buku pelajaran saja, tetapi kasus “anak titipan”.

Namun pada tahun sekarang ini kita digembirakan dengan adanya “sekolah gratis” dari pemerintah yang terwujud berkat adanya kenaikan jumlah biaya santunan BOS (Biaya Operasional Sekolah) yang di dalamnya termasuk sumbangan pembiayaan pendidikan (SPP), uang penerimaan siswa baru (PSB), biaya ujian sekolah dan juga BOS buku. Alhamdulillah anak-anak bangsa ini bisa mengenyam pendidikan agar mereka bisa andil dalam pembangunan negeri tercinta ini sehingga ibu pertiwi ini akan melahirkan para pemimpin masa depan. Orang tua pun bisa bernafas lega, mereka tidak takut lagi sindrom kapitalisme pendidilkan yang menggurita di negeri yang kaya raya ini.

28/03/09

Al jazeera (arabic) Live Online


Hai sobat-sobat blogger gimana kabar kalian semua?? Sehat kan?
Sahabat saya punya yang baru neh… buat kalian yang peduli ama perkembangan berita dunia Islam simak ikuti aja beritanya TV al jazeera. Nah truss gimana nontonnya kan harus pake parabola???
Ettt… jangan khawatir kamu bisa nonton aljazeera live di blogku ini. Tuh lihat di pojok atas dibawah header. Kalian ga usah mencet play lagi, itu udah autoplay artinya kalo kalian buka blogku langsung aja tuh aljazeera maen sendiri.

Aljazeera di blogku ini yang berbahasa arab, jadi cocok buat kalian yang lagi belajar bahasa arab. Kalo mau yang bahasa inggrisnya klik aja disini. Tapi buat kalian yang pengen susah-susah dulu belajar bahasa arab datang aja ke rumahku tapi jauh di gunung Asyifa. Ato kalian klik aja disini. Kan enak kalo udah bisa bahasa arab mah kalian bisa lebih akrab sama onta he..he…8 kali. Bahsa arab kan bahasa surga, jadi kalo ga bisa bahasa arab ntar ga masuh surga.. (ga gitu kale….).

Tapi sayang aljazeera diblogku ini harus pake browser mozilla, aku juga ga ngerti kenapa seperti itu. aku dah nyoba pake internet explorer tapi ga muncul, trus aku nyoba pake google chrome ga bisa juga. jadi harus pake mozilla. Wah repot dong??? Iya sih….tp kalo kalian belum punya mozilla tinggal download dulu aja disini.
Hayu ah… semuanya…
Titunggu kunjungannya di blogku OK.....

16/03/09

Hari-hari Kebahagiaan


Suatu hari Dr. Muhammad Khamis Humaidah –anggota maktab Irsyad- bertanya kepada Ustadz Saad ad Diin al Walily –sekretaris pribadi Imam Hasan Al Banna- : “Wahai Sa’ad Apakah Anda tau hari paling bahagia yang dialami Mursyid Hasan Al Banna?”
Sa’ad menjawab: “Hari yang mana? Hari-hari yang beliau lalui adalah hari-hari kebahagiaan.”

Kemudian Dr. Humaidah bercerita: “Suatu hari kami masuk ke rumah Syekh Hasan Al Banna, kira-kira kami berjumlah lima orang, setelah berbincang panjang di kantor pusat Ikhwan. Kami menanyakan makan malam kepada beliau. Lalu beliau meninggalkan kami sebentar dan kembali lagi dengan membawa sisa makanan keluarganya. Makanan itu adalah beberapa potong roti dan timun yang banyak ditambah sedikit biji zaitun, sepotong keju yang sedah lama, dan garam. Kemudian beliau berkata: inilah makan malamku, sebaik-baiknya makanan adalah ketika banyak tangan yang memakannya. Bismillah… maka kami pun makan dan kenyang. Alhamdulillah.”
(Diterjemahkan dari buku “Mawaqif wa tharaif min hayat ad Duat al Mu’ashirin” hal: 9.)
Luar biasa kesederhanaan hidup yang tercermin dari seorang syekh pemimpin dakwah abad modern ini, ia ajarkan arti sebuah kebahagiaan dalam kesederhanaan. Ia tau bahwa yang membuat hidup bahagia bukan dengan bergelimangya harta atau jabatan tinggi, namun terletak pada diri kita sendiri. Inilah yang yang dikatakan oleh Rasulullah saw. “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, tapi kekayaan itu adalah kayanya jiwa.” Sebuah isyarat dari Rasulullah saw. tentang makna hidup bahagia dengan apa yang kita miliki, yang Allah berikan untuk kita. Jangan pernah mengeluh karena ia adalah pintu kekufuran terhadap semua nikmat yang Allah berikan.

12/02/09

Bingung..... Antara......


Suatu malam setelah Isya tampak wajah yang sedang gundah. Rona muka yang sedang dirundung kebingungan itu mengisyaratkan gejolak dalam hati. Yup… ia adalah seorang ustad yang sedang membolak-balik satu bundel biodata seorang akhwat di tangannya. Lembar demi lembar ia baca dengan teliti, tak satu hurup pun terlewatkan. Hik…
“Ah tidak …. Bagaimana dengan ummi? Bagaimana dengan anak-anak” ia mendengus sambil pikirannya menerawang.
”Lebih baik buat anakku saja, ia kan dah cukup nikah.” pikirnya lagi, seolah ia dapat ide.

”Idin.... ” ia memanggil anak sulungnya, Zainuddin yang sedang konsentrasi ngetik tesis buat program magisternya.
”iya bi... ” jawab zainuddin sambil langsung menuju ayahnya.
”ini ada biodata seorang akhwat, coba kamu baca, kalau cocok ambil aja!” kata sang ustad, sambil langsung memberikan biodata di tangannya.
Sang anak kemudian membaca dengan teliti, matanya tak berkedip membaca poin demi poin biodata itu. Tiba-tiba ia terperanjat ketika matanya tertuju pada sebuah poin “usia: 37” matanya merem sebentar, ia ngitung selisih usianya. Ternyata usia nya terpaut 5 tahun lebih muda dari biodata yang ada dihadapannya.
“Bi… saya bingung… antara menikah dan idealisme. Saya mau selesai magister dulu.” raut mukanya tampak kalem.
”Ya, udah selesaikan dulu kuliahmu.” sang ustad bijak.

”Azam... kesini nak!” sang ustad manggil anak keduanya yang sedang buat makalah buat presentasi besok, maklum ia mahasiswa baru semester 2.
”iya bi.. ada apa” jawab Azam sambil menatap wajah ayahnya dengan penuh penasaran.
”ini ada biodata seorang akhwat, coba kamu baca, kalau cocok ambil aja!” kata sang ayah dengan penuh harap.
Azam pun mngambil biodata itu dengan tangan gemetaran. Maklum baru kali ini ia melihat bidata seorang akhwat. Ia pun membacanya dengan mulut komat-kamit sambil sesekali tangannya menyeka peluh dingin di keningnya.
Eeetttttt..... ternyata matanya tersandung di poin yang sama dengan kakanya ”USIA: 37”
”Emmmhhhhhh..... bi saya bingung neh .... antara menikah dan kuliah. Saya kan baru semester 2, perjalanan kuliah say amasih lama. Ntar malah ngerepotin abi sama umi.” azam mengeluarkan jurus seribu alasan.
Sang ustad hanya tersenyum, ia paham seribu alasan anaknya itu.
”Ya udah.....” harapan sang ustad kandas.
Suasana jadi hening.

Tiba-tiba hamzah, anak bontot sang ustad nyembul dari kamarnya menuju ruang tamu.
”Wh bi lagi nawarin biodata sama kak udin dan kak azam lagi ya?” suara hamzah memecah keheningan.
”Iya neh ... tapi mereka berdua pada bingung. Alesannya aneh-aneh.”
”Ohhh kenapa bingung? Masih pada belum siap ya? Atau mau nyari sendiri?” hamzah yang baru keluar SMA itu ngeyel kedua kakanya.
“boleh saya lihat bi … biadatanya?” ternyata ia juga penasaran.
“Boleh neh….siapa tau kamu cocok ” Sang ayah menyodorkan biodata.
Hamzah langsung menyambar biodata itu. Tanpa ba bi bu tangannya mencari letak poin USIA. Sejenak ia terpana, matanya dibuka lebar-lebar, beberapa kali ia mengerutkan dahinya.
”Wah bi saya bingung ....ini mah.... antara bumi dan langit.”
Sekarang sang ustad tau, poin USIA lah yang membuat anak-anaknya beralasan macem-macem.

”ya udah kalau anak kita ga ada yang cocok mah, kita kasih aja ke yang lain. Nanti umi ambil lagi biodatanya” tiba-tiba terdengar suara bu Fatimah dari arah dapur menuju mereka.
Ternyata biodata itu dari seorang akhwat binaannya bu Fatimah.
”Tapi, Mi.....mmmmhhhhh.” suara sang ustad terputus.
“Tapi kenapa bi…?” tanya bu Fatimah dengan penuh keheranan.
“Abi juga bingung ….. antara umi dan biodata ini.” Jawab sang ustad sambil nyengir kuda.
”Iya sih bi... umi juga bingung....... antara dipoligami dan sunah nabi…” kata bu Fatimah dengan muka dingin dan mata memerah.

“Haaaaa…..hhhhhh….” ledak tawa anak-anaknya memenuhi ruang tamu.

Cerita ini saya buat untuk dipersembahkan kepada ikhwah mahasiswa Sudan pada acara buka bersama tahun 2005.

31/01/09

Nestapa negeri para nabi


“Al Ardl al Muqoddasah” (tanah yag disucikan) begitulah Al Quran memberi julukan untuk Palestina (al Maidah : 21). Dari rahim negeri ini banyak melahirkan para Nabi dan Rasul Allah. Dimulai dari keturunan Ibrahim as yaitu Ishaq, Ya’qub, dan Yusuf, kemudian datang Musa, Daud dan Sulaiman sampai ke Zakaria, Yahya, dan Isa ‘alaihimussalam. Maka tak heran jika negeri ini menjadi negeri yang diperebutkan oleh setiap para penganut tiga agama samawi.

Salah satu kota bersejarah di Palestina adalah Yerusalem yang merupakan kota suci bagi umat Islam, Nasrani dan Yahudi. Bagi kaum Muslimin Yerusalem memiliki keistimewaan tersendiri karena di sana ada baitul maqdis yang menjadi tempat bertolaknya nabi Muhammad saw ke langit dalam peristiwa besar, isra mi’raj. Selain itu, baitul maqdis juga merupakan kiblat pertama kaum Musimin sebelum berpindah ke ka’bah. Maka baitul maqdis adalah tempat ketiga paling suci dalam Islam setelah Mekkah dan Madinah.

Namun bagi Yahudi dibawah baitul maqdis ini dianggap ada kuil nabi Sulaiman yang pernah dihancurkan dua kali oleh kekaisaran Romawi . Dari penghancuran ini, yang tersisa adalah tembok barat yang kemudian dikenal sebagai tembok ratapan tempat orang-orang yahudi berdoa dan meratapi dosa-dosa mereka dengan penuh penyesalan. Inilah awal cengkraman bangsa rowawi atas tanah Palestina. Pada masa ini Yahudi diusir dan tidak diperbolehkan melakukan kegiatan peribadahan, Yahudi angkuh ini berada dalam tekanan. Hingga pada tahun 636 M, khalifah besar umat Islam Umar bin Khattab menaklukan Palestina dari tangan Romawi. Yahudi pun bisa meraih kembali kehidupannya. Mereka dilindungi dan dijamin kemanannya oleh Umar setelah sekian lama menjadi bulan-bulanan Romawi.

Bagi umat Nasrani Yerusalem adalah kota kelahiran Yesus kristus, dan merupakan pusat kerajaan Eropa setelah terjadi penaklukan kota itu dalam perang Salib pada tahun 1099 M. Dalam cengkraman orang-orang Eropa ini, nasib Yahudi tidak jauh berbeda seperti pada masa penguasaan Romawi, mereka menjadi bulan-bulanan tentara Salib. Ketika terjadi penaklukan ini, kaum Muslimin dan Yahudi dibantai habis dengan cara yang tidak manusiawi.

Berselang sekitar satu abad tepatnya tahun 1187 M. Palestina kembali ke pangkuan kaum Muslimin setelah ditaklukan oleh seorang panglima besar kaum Muslimin Sholehuddin al Ayyubi dalam pertempuran Hittin. Bangsa Yahudi kembali dapat menghirup udara segar setelah berpuluh-puluh tahun berada dibawah penindasan kaum salibis Nasrani.
Kita dapat melihat bahwa negeri ini mengalami kesengsaraan sebelum kedatangan Islam. Namun setiap Islam datang ke Palestina, Islam membawa perdamaian. Di bawah penguasaan Islam, Palestina memberikan ketentraman bagi setiap yang ada di dalamnya tanpa memandang perbedaan agama, Islam, nasrani, dan Yahudi hidup damai berdampingan.
Rupanya ada yang ingin mengusik kedamaian ini, Yahudi yang tidak tahu terima kasih ini ingin mencoba menjadi penguasa di negeri para Nabi itu. Yahudi yang mengaku bangsa pilihan Allah ini mengkliam bahwa dirinya lebih berhak atas tanah Palestina. Mereka mengaku bahwa tanah Palestina adalah tanah yang dijanjikan Allah untuk mereka.

Dalam surat al Maidah Allah memang menjanikan Palestina untuk Yahudi, tetapi dengan syarat mereka tetap beriman dan taat kepada Allah. "(Musa berkata): Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena kamu takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi." (al Maidah: 21)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa harga tanah palestina harus mereka bayar dengan keimanan dan taat kepada Pemilik Palestina, Allah SWT. Artinya bahwa mereka boleh menginjakan kaki di bumi Palestina selama mereka beriman dan taat. Berarti tanah palestina ini haram diinjak oleh para pembangkang dan orang-orang yang sombong dan angkuh.

Yahudi adalah bangsa yang dilaknat Allah karena pembangkangan dan kesombongan mereka. Telah banyak nabi dan rasul yang mereka bunuh, kitab-kitab Allah yang mereka selewengkan dan hukum Allah mereka langgar. Pantaskah mereka mengaku bangsa pilihan Allah?

Yahudi adalah bangsa pengecut. Ini terlihat ketika nabi Musa menyuruh mereka masuk ke palestia, mereka menolak karena di palestina terdapat bangsa kan'an yang terkenal sangar dan bengis.

"Mereka berkata: Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar daripadanya. Jika mereka keluar daripadanya, pasti kami akan memasukinya. Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nimat atas keduanya : Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman. Mereka berkata: Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja. (Al Maidah: 22-24)
Jelas tidak ada sedikit pun jasa bani israil untuk merebut tanah Palestina dari orang kan'an. Malah mereka menyuruh nabi Musa untuk memerangi kaun kan'an, mereka hanya ongkang kaki saja di luar gerbang palestina.

Alih-alih di abad modern ini mereka mengaku paling berhak atas tanah palestina, padahal Musa lah yang merebut palestina dari orang kan'an. Umar lah yang membebaskan palestina dari cengkraman Romawi dan Sholehuddin lah yang merebut palestina dari jajahan tentara salib. Sekali lagi tak ada sedikit pun jasa mereka untuk membebaskan palestina dari tangan para penguasa yang telah menganiaya mereka. Justeru Islam lah yang telah memerdekakan yahudi-yahudi ini dari tangan penguasa-penguasa yang dzalim terhadap Israil ini.

Ternyata air susu dibalas air tuba. Kebaikan kaum Muslimin yang telah membebaskan mereka dari belenggu penjajahan Romawi dan tentara salib, mereka balas dengan penjajahan dan perampasan hak-hak kaum muslimin di palestina. 60 tahun sudah Palestina dijajah bangsa kera ini. Sejengkal demi sejengkal tanah palestina mereka caplok, kesucian Al Quds mereka nodai, anak-anak dan wanita mereka bantai, rumah dan masjid mereka ratakan dengan tanah.

Sepenggal tragedi kemanusian yang terjadi selama 23 hari di Gaza kemarin adalh contoh kebiadaban Israel yang ingin mencoba menjadi penguasa Palestina seperti Romwai dan tentara salib dulu. Kini negeri para nabi itu menjadi nestapa memilukan akibat obsesi dan mimpi yahudi yang ingin mendirkan negara Israel raya di atas genangan darah para syuhada. Namun saya yakin, Israel yang telah menodai kesucian Al Aqso ini akan mengalami nasib serupa seperti yang pernah dialami para penguasa pendahulunya, Romawi dan tentara salib.

Kemenangan pejuang Palestina di Gaza kemarin adalah titik tolak kemenangan kaum Muslimin atas bangsa Yahudi. Dengan persenjataan seadanya para pejuang Palestina dapat memukul mundur Israel yang dilengkapi persenjataan serba canggih. Kam min fiatin qalilatin ghalabat fiatan katsiratan bi idznillah.

Kini Palestina sedang menunggu seorang pahlawan seperti Umar dan Sholehuddin Al Ayyubi untuk membebaskan al Aqso dari tangan kotor zionis yahudi. Pahlawan itu adalah kita, kaum Muslimin. Kitalah yang akan memenangkan peperangan ini. Nashrun minallah wa fathun qarib.

NC

05/01/09

Saat sakaratul maut menghampiri Nabi saw.

Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba."Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Bismillahirrahmannirahiim Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang
Detik-detik Rasullah SAW menjelang sakratul maut.Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.
Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Al Qur'an dan Sunnah. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba."Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.
Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi.
"Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah beradadidalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya malaikat Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."Lirih Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
" Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.
"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii, ummatii, ummatiii?"
Sepenggal kisah diatas menggambarkan disaat Rasul menjelang ajalnya, beliau masih memikirkan umat ketimbang dirinya sendiri...dan ALLAH menjanjikan kepada setiap Nabi dan Rasulnya suatu doa yang pasti dikabulkan...semua nabi dan rasul menggunakan doa tersebut utk mendapatkan karomah dan berkah dari ALLAH SWT kepada diri dan keluarganya..namun pada saat ALLAH bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai apa keinginan dan doa nabi SAW kepadanya..dengan penuh keikhlasan Nabi menjawab..jika engaku mengizinkan ya ALLAH..maka aku simpan doa ini utk mendoakan umatku agar engkau mengampuni mereka ya ALLAH...betapa cinta Rasul SAW kepada umatnya, kepada kita...namun bisakah kita memberikan kasih sayang dan cinta kepada ALLAH dan Rasulnya?...semoga..kita mampu memberikan salam dan shalawat kepada Rasul SAW...


21/12/08

Renungan seorang Akh....


"Akh, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam da'wah. Tapi
belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana
melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh."Begitu keluh
kesah seorang mad'u kepada seorang murobbinya di suatu malam. Sang
murobbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam
diri mad'unya.


"Akh, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam da'wah. Tapi
belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana
melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh."Begitu keluh
kesah seorang mad'u kepada seorang murobbinya di suatu malam. Sang
murobbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam
diri mad'unya.

"lalu apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu ? "
sahut sang murobbi setelah sesaat termenung.
" Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa
dengan prilaku beberapa ikhwah yang justru tidak Islami. Juga dengan
organisasi dakwah yang Ana geluti; kaku dan sering mematikan potensi
anggota-anggotanya. Bila begini terus, Ana mendingan sendiri saja."
Jawab mad'u itu.
Sang murobbi termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari
roman di wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan
jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal. " Akhi, bila suatu
kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu
ternyata sudah sangat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya
banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa
yang akan antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?". Tanya sang
murobbi dengan kiasan bermakna dalam. Sang mad'u terdiam dan
berfikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam
melalui kiasan yang amat tepat. " Apakah antum memilih untuk terjun
kelaut dan berenang sampai tujuan?". Sang murobi mencoba memberi
opsi. "Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang.
Bebas dari bau kotoran manusia, merasa kesegaran air laut, atau
bebas bermain dengan ikan lumba-lumba . tapi itu hanya sesaat.
Berapa kekuatan antum untuk berenang hingga tujuan?. Bagaimana bila
ikan hiu datang. Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam
datang, bagaimanan antum mengatasi hawa dingin?" serentetan
pertanyaan dihamparkan dihadapan sang mad'u. Tak ayal, sang mad'u
menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan
sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang murobbi yang
dihormati justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan
keinginannya.
"Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan
yang paling utama menuju ridho Allah?
" Bagaimana bila ternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh
jalan itu ternyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan
mobil itu tergeletak dijalan, atau mencoba memperbaikinya? . Tanya
sang murobbi lagi.
Sang mad'u tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya. Tiba-
tiba ia mengangkat tangannya:"Cukup akhi, cukup. Ana sadar.. maafkan
Ana…. ana akan tetap Istiqomah. Ana berdakwah bukan untuk
mendapatkan medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana
diperhatikan… " .
Biarlah yang lain dengan urusan pribadinya masing-masing. Biarlah
ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya Allah saja yang akan
membahagiakan ana kelak dengan janji-janji- Nya. Biarlah segala
kepedihan yang ana rasakan menjadi pelebur dosa-dosa ana". Sang
mad'u berazzam dihadapan sang murobbi yang semakin dihormatinya.
Sang murobbi tersenyum "Akhi, jama'ah ini adalah jamaah manusia.
Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi
dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka
miliki . Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah
untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi
manusia terbaik pilihan Allah." "Bila ada satu dua kelemahan dan
kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum.
Sebagaimana Allah ta'ala menghapus dosa manusia dengan amal baik
mereka, hapuslah kesalahan mereka dimata antum dengan kebaikan-
kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata Allah,
belum tentu antum lebih baik dari mereka."
"Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah
jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu
disikapi dengan jalan itu , maka kapankah dakwah ini dapat berjalan
dengan baik?" sambungnya panjang lebar. "Kita bukan sekedar pengamat
yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding
sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafirpun bisa melakukannya.
Tapi kita adalah da'i. kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi
amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi.
Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin
memperuncing masalah.
"Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api.
Bara yang tadinya kecil.tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala
api yang yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!" "Bekerjalah
dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih
sayang kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu.
Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada isyu
atau gosip tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan
segala ghil antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah,
Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya. "
Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraaan melebar
dengan akrabnya. Tak terasa, kokok ayam jantan memecah suasana. Sang
mad'u bergegas mengambil wudhu untuk berqiyamu lail. Malam itu. Sang
mad'u sibuk membangunkan mad'u yang lain dari asyik tidurnya.
Malam itu sang mad'u menyadari kesalahannya. Ia bertekad untuk tetap
berputar bersama jama'ah dalam mengarungi jalan dakwah. Pencerahan
diperolehnya. Demikian yang kami harapkan dari antum sekalian…

… Semoga bermanfaat

24/11/08

Manhaj Aqidah dan Fiqih Ikhwan


"Setiap orang dapat diambil perkataannya dan ditinggalkan kecuali Rasulullah saw. yang ma'shum (terlindung dari kesalahan). Dan semua yang datang dari para salaf -ridhwanullah alaihim- bila sesuai dengan al-Qur'an dan sunnah kami menerimanya. Namun bila tidak sesuai, maka al-Qur'an dan sunnah Rasulullah lebih kami utamakan untuk diikuti. Namun kami tidak akan melontarkan tuduhan dan
kritikan terhadap pribadi yang berselisih dalam hal ini."

(Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim Muhalhil)

Manhaj aqidah Ikhwan adalah manhaj salafi murni tanpa kesamaran sedikitpun. Ini jelas terlihat melalui perkataan Syaikh Hasan al-Banna -rahimahullah- dalam al-ushul al-'isyrin.

"Setiap orang dapat diambil perkataannya dan ditinggalkan kecuali Rasulullah saw. yang ma'shum (terlindung dari kesalahan). Dan semua yang datang dari para salaf -ridhwanullah alaihim- bila sesuai dengan al-Qur'an dan sunnah kami menerimanya. Namun bila tidak sesuai, maka al-Qur'an dan sunnah Rasulullah lebih kami utamakan untuk diikuti. Namun kami tidak akan melontarkan tuduhan dan
kritikan terhadap pribadi yang berselisih dalam hal ini."

Dalam hal ini, Syaikh Sa'id Hawwa memberi catatan: "Tidak ada
'ishmah menurut ahlul haq kecuali al-Quran dan sunnah. Karenanya kesalahan yang terjadi selain dari keduanya adalah masalah yang mungkin terjadi.

"Selanjutnya, pendapat yang dilontarkan oleh seseorang, setelah
Allah dan rasul-Nya, dapat diambil atau ditolak. Termasuk dalam hal ini pendapat para salaf dan para imam. Kami menolak setiap perkataan yang berlawanan dengan al-Qur'an dan sunnah,
siapapun yang mengatakannya.

"Demikianlah, berkata Ustadz Hasan al-Banna-rahimahullah- dalam prinsip ke sembilan: Setiap masalah yang tidak didasari dengan amal perbuatan, maka mendalami masalah tersebut termasuk
Takalluf (memberat-beratkan) yang dilarang oleh syari'at. Termasuk mendalami masalah-masalah cabang (far'iyat) terhadap ketentuan hukum yang belum terjadi."

Syaikh Sa'id Hawwa rahimahullah mengatakan:
"Adab para sahabat radhiallahu'anhum adalah, mereka tidak menanyakan sesuatu yang belum terjadi. Bila terjadi sesuatu, baru mereka mencari hukum Allah tentang hal tersebut.

"Umar radhiallhu‘anhu pemah marah pada seorang yang menanyakan sesuatu yang belum terjadi, sebagaimana diriwayatkan ad-Darimi."

Ada beberapa masalah termasuk bab aqidah yang kita tidak diperintahkan untuk membahasnya. Ada masalah yang termasuk bab fiqh dan kita atau kaum muslimin tidak memerlukannya. Ada pula masalah yang tidak termasuk bab akhlaq, tidak disebutkan oleh al-Qur'an dan sunnah, serta bukan merupakan sesuatu keharusan dalam urusan dunia dan din.

Waktu kita tidak perlu disibukkan terhadap masalah-masalah seperti ini. Karena hal tersebut tidak lain hanya melelahkan jiwa dan akal, serta menyia-nyiakan waktu tanpa manfaat. Bahkan bisa jadi, termasuk dalam akhlaq tercela dari akhlaq mutafashihin (berlebihan dalam kefasihan), mutaqarri'in (berlebihan dalam membaca), mutafaqqihin (berlebihan dalam pemahaman fiqih), yang semuanya
termasuk takalluf yang dilarang oleh syari'at.

Allah swt. berfirman, “Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang yang mengada-ada.” (QS. Shad: 86)

Untuk menjelaskan manhaj Ikhwan dalam hal ini, harus disebutkan dulu sebagian rincian masalah dalam manhaj fiqh.

Manhaj Fikih Ikhwan

Dalam membahas manhaj ini, kami memilih salah satu di antaranya, yakni masalah madzhabiyah. Kami akan menyebutkan sebuah makalah tentang ijtihad dan taqlid yang pernah disebarkan pada
Majalah Ukhuwwah Islamiyyah tahun pertama yang berjudul, "Upaya Pembentukan Sosok Da'i".

Taqlid

"Pengertian taqlid adalah: Menerima perkataan orang lain tanpa disertai upaya mencari dalilnya dari al-Qur'an dan sunnah. Bila ada orang yang bertanya tentang dalil dari keduanya, maka ia bukan
Muqallid (yang bertaqlid). lnilah pengertian yang disepakati semua pihak.

Para muqallid memiliki beberapa dalil, yang mereka yakini sebagai alasan sikap mereka, di antaranya:

Pertama, Firman Allah swt.:
"Maka bertanyalah pada ahlu dzikri bila kalian tidak mengetahui.” (QS. al-Anbiya: 7)

Kita bertanya pada mereka karena kita tidak tahu, sehingga mereka memberi fatwa kepada kita. Atau bahwa taqlid kita terhadap madzhab, sebenarya merupakan upaya meminta fatwa kepada
seorang alim.

Jawabannya: Yang dimaksud dalam lafadz adz-Dzikr adalah al-Qur'an dan hadits. Artinya, wajib menanyakan dalil dari ahli dalil.

Sekelompok orang di zaman Rasul saw. pernah memberi fatwa kepada seorang yang terluka untuk mandi karena janabah. Setelah mandi, temyata orang itu meninggal.

Ketika Rasulullah saw. mengetahuinya, beliau bersabda, "Mengapa tidak cukup baginya bersuci dengan debu melalui tangannya seperti ini," sambil mengisyaratkan tayammum.

Beliau melanjutkan: "Mereka telah membunuhnya. Allah membinasakan mereka. Mengapa mereka tidak bertanya dulu bila mereka belum mengetahui?! Sesungguhnya obat bagi yang tidak tahu adalah bertanya.”

Artinya, mengambil pendapat, tanpa dalil, bagi seorang mufti sama halnya dengan membunuh. Dan keburukan baginya sekaligus bagi orang yang meminta fatwa. Sesuai dengan nash hadits, yang
nanti akan kami jelaskan.

Kedua, Rasulullah saw. bersabda, "Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaurasyidin yang diberi petunjuk setelahku."

“Contohlah orang-orang setelahku Abu Bakar dan Umar.”

Mereka mengatakan, “Kami mengikuti para imam yang mulia sebagaimana kami mengikut khulafaurrasyidin.”

Ketiga, Rasulullah saw. bersabda, "Sahabat-sahabatku adalah seperti bintang, siapapun yang kalian ikuti, kalian akan mendapat
petunjuk"

Mereka mengatakan, "Kami mengikuti para imam sebagaimana kami mengikuti para sahabat."

Keempat, Firman Allah swt., "Ta’atlah kepada Allah dan Rasul dan ulul amri di antara kalian.” (QS. An-Nisaa:59)

Mereka mengatakan, "Yang dimaksud ulul amri adalah para ulama, dan ta'at kepada mereka berarti taqlid pada mereka terhadap yang mereka fatwakan."

Jawabannya: "Yang dimaksud ulul amri adalah pemimpin, ulama, atau kedua-duanya. Taat pada ulama bukan berarti taqlid pada mereka, sebab mereka melarang sikap taqlid, sebagaimana nanti
akan dijelaskan. Maka, ta'at kepada mereka, artinya justeru meninggalkan taqlid kepada mereka."

Kelima, Bila kita membolehkan setiap orang untuk berijtihad, sama saja kita membebani manusia dengan sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Dan akibatnya, kehidupan ilmiyah akan terhenti.

Jawabannya: Sesungguhnya setiap manusia ditetapkan untuk bertanya tentang hukum syari’at yang tetap dalam Kitabullah dan sunnah. Hal itu agar ia dapat mengambil petunjuk agamanya dari
orang yang dapat menolongnya untuk memahaminya, melalui pengetahuan terhadap nash baik secara lafadz atau makna.

Ini lebih ringan daripada memahami sebuah pendapat dengan sangat detail dan rinci.

Prinsip inilah yang ditempuh selama tiga zaman pertama, sebagai zaman yang berpredikat paling baik.

“Sebaik-baiknya zaman, adalah zamanku, kemudian orang-orang yang setelah mereka, dan orang-orang yang setelah mereka.”

Mazhab-mazhab yang empat itu berada pada tiga zaman tersebut. Dan di dalamnya sikap taqlid sama sekali tidak diakui. Adakalanya murid-murid mereka berbeda pendapat dalam banyak masalah. Lagi pula di hari kiamat kelak, seseorang tidak ditanya, "Mengapa anda tidak menyambut perkataan atau pendapat fulan dan fulan?"

Akan tetapi akan ditanya, "Apakah jawabanmu kepada para Rasul?' sebagaimana yang tercantum di dalam firman Allah: Dan (Ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka seraya berkata, “Apakah jawabanmu kepada para Rasul?" (Q.S. Al-Qashash: 65)

Keenam, Sesungguhnya bab ijtihad saat ini telah tertutup dikarenakan tak ada manusia yang memahami al-Qur'an.

Jawabannya: Apakah Allah swt. tidak mampu membentuk manusia yang mampu memahami al-Qur'an? Atau apakah Allah swt. tidak mampu menjadikan al-Qur'an dapat dipahami manusia?

Padahal Allah swt. berfirman, "Dan sesungguhnya al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa
turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas." (QSAsy-Syu'ara : 192-195).

"(Ialah) al-Qur'an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertaqwa.' (QS. az-Zumar: 28)

"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran." (QS. al-Qamar: 17)

"Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mu'min yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka
ada pahala yang besar." (QS. al-Isra: 9)

Bagaimana al-Qur'an dapat memberi petunjuk bila tidak dapat di pahami.

Orang-orang Yahudi dahulu pernah mengatakan bahwa kitab Taurat tidak dapat dipahami. Kemudian Allah swt. berfirman: "Dan mereka berkata, "Hati kami tertutup." Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka, maka sedikit sekali mereka yang beriman.” (QS. al-Baqarah: 88)

Sementara itu Allah swt. memerintahkan kita untuk memahami al-Qur'an kita sebagaimana kita mengetahui anak-anak kita. Orang-orang (Yahudi dan Nashrani) yang telah Kami beri al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri...(QS. al-Baqarah: 146)

Dari sini jelaslah, bahwa pengetahuan tentang Islam selamanya bersandar pada alasan dan dalil.

"...Katakanlah, Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar." (QS. al-Baqarah: 111)

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu..." (QS. an-
Nisaa': 105)

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (QS. al-Isra: 36)

Pengertian taqlid menerima pendapat tanpa upaya mencari alasan dan dalil, tidak dikategorikan sebagai ilmu. Dan setiap muslim yang bertanya tentang dalil dari Kitabullah dan sunnah, ia telah keluar dari lingkaran taqlid.

eramuslim.com


11/11/08

Urgensi Tarbiyah Islamiyah


Dalam kehidupan pribadi atau masyarakat, pendidikan (tarbiyah) menududki posisi yang sangat penting. Sebab melalui proses pendidikan pribadi seorang dapat tumbuh dan berkembang secara baik, sesuai yang diharapkan. Tarbiyah dapat membentuk kepribadian seseorang selaras dengan nilai-nilai dan prinsip yang mendasarinya sehingga menjadi kepribadian yang sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai dan prinsip Islam.
Seseorang yang telah dididik dengan pola pendidikan Islam, sikap dan perilakunya akan merupakan refleksi total dari keutuhan dirinya yang telah tersibghah nilai-nilai Islam.

Dalam kehidupan pribadi atau masyarakat, pendidikan (tarbiyah) menududki posisi yang sangat penting. Sebab melalui proses pendidikan pribadi seorang dapat tumbuh dan berkembang secara baik, sesuai yang diharapkan. Tarbiyah dapat membentuk kepribadian seseorang selaras dengan nilai-nilai dan prinsip yang mendasarinya sehingga menjadi kepribadian yang sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai dan prinsip Islam.
Seseorang yang telah dididik dengan pola pendidikan Islam, sikap dan perilakunya akan merupakan refleksi total dari keutuhan dirinya yang telah tersibghah nilai-nilai Islam. Akibatnya integritas Islamnya kukuh dan gaya hidupnya Islami. Tidak akan terjadi split personality (kepribadian pecah) yang mengakibatkan seorang muslim kehilangan kepribadiannya dan terseret ke dalam arus gaya hidup yang lain.
Pendidikan Islam mengarahkan kehidupan seorang muslim berkembang dan terus semakin matang. Sikap, perilaku, dan gaya hidupnya bersifat spesifik islami yang berinteraksi secara posiif, baik internal maupun eksternal. Sehingga ia dapat memancarkan arus Islam si tengah-tengah lingkungannya. Ia menjadi manusia yang tangguh yang tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai arus kehidupan yang melandanya. Tegasnya ia menjadi muslim yang muttaqin.

ARTI PENTING TARBIYAH ISLAMIYAH
Barangkali tidak akan ada yang menyangkal bahwa Muslim yang istiqomah dengan Islam atau dengan kata lain yang berpegang teguh pada din Allah merupakan modal dasar terbenuknya masyarakat Islam. Ia adalah batu bata yang dapat disusun menjadi bangunan. Semakin tinggi dan besar suatu bangunan maka semakin memerlukan batu bata yang kuat dan kukuh. Di sisi lain berpegang teguh dengan din Allah adalah dasar umum bagi penyelesaian krisis keimanan yang melanda kaum muslimin terutama para pemudanyya. Karena ittu peranan tarbiyah dalam upaya mengatai munculnya gejala krisis konfedensi di kalangan kaum muslimin yang diakibatkan oleh derasnya arus ghazwl fikri (perang pemikiran) semakin jelas. Secara ringkas urgensi dari tarbiyah Islamiyah ini terlihat jelas pada peranannya dalam kehidupan ini.

1. Membentuk generasi yang Islami
Pendidikan islami (tarbiyah Islamiyah) adalah satu-satunya cara terbaik dalam membentuk individu berkepribadian, masyarakat yang ideal dan peradaban kemanusiaan yang tinggi. Hubungan ketiga aspek tersebut saling terkait, karena terbentuknya masyarakat ideal. Sedangkan terbentuknya masyarakat ideal merupakan medium terbentunya peradabn kehidupan manusia yang tinggi.
Apabila ketiga aspek tersebut terwujud maka akan melahirkan kebaikan-kebaikan dan kebahagiaan hidup. Semua itu dapat diwujudkan melalui Tarbiyah Islamiyah.

2. Merupakan kebutuhan manusia
Manusia adalah makhluk Allah yang mempunyai insting, watak, dan kecenderungan yang berbeda-beda. Ada orang yang didalam kehidupannya dijajah oleh nafsu. Perilaku tersebut tidak ubahnya seperti binatang. Tetapi ada pula manusia yang mampu meningkatkan derajadnya ke tingkat yang paling tinggi. Namun ada juga manusia yang mengikuti kehendak syetan.
Jika manusia dibiarkan dengan kecenderungan dan watak masing-masing tanpa ada upaya pembentukan melalui media pendidikan yang sesuai dengan fitrah kejadiannya, niscaya panorama bumi akan diwarnai dengan kezaliman dan permusuhan.
Sehubungan dengan itu satu-satunya media untuk menyelamatkan manusia dari kenistaan dan jeratan konflik akibat adanya pertentangan ialah tarbiyah islamiyah yang menyeluruh terutama pembinaan iman dan keyakinan.

3. Tarbiyah Islamiyah adalah suatu kewajiban agama
Pendidikan islam adalah wajib, karena ia merupakan sarana terlaksananya kewajiban din yaitu ibadah. Ta’lim adalah bagian dari tarbiyah dan ibadah tidak sah tanpa mengetahui hokum dan syarat sahnya ibadah. Atas dasar tersebut Rasulullah SAW bersabda “ Menuntut ilmu itu ajib bagi setiap Muslim”.

Itulah beberapa bukti dan pertimbangan yang memastikan urgensi tarbiyah islamiyah salam kehidupan. Tetapi perlu kita sadari bahwa tanpa adanya tarbiyah yang terarah dan sistemik mustahil akan mencetak insan yang memiliki Syakhsiyah Islamiyah.

PENGERTIAN TARBIYAH ISLAMIYAH
Dari segi bahasa tarbiyah islamiyah bermakna: Rabba-yarbu (tumbuh berkembang), rabbiya-yarba (tumbuh secara alami), rabba-yarabbu (memperbaiki, meningkatkan). Sedangkan secara istilah Tarbiyah Islamiyah adalah memperbaiki sesuatu, menjaga serta memeliharanya.
Tarbiyaah memiliki pengertian cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung (dengan kata-kata) ataupun secara tidak langsung (dengan keteladanan) untuk memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik.
Tarbiyah Islamiyah berarti proses mempersiapkan orang dengan persiapan yang menyenuh seluruh aspek kehidupan meliputi jasmani, ruhani, dan akal pikiran. Demikian juga dengan kehidupan duniawinya, dengan segenap aspek hubungan dan kemaslahatan yang mengikatnya, dan kehidupan akhirat dengan segala amal yang sihisabnya yang membuat Allah ridha atau murka.
Jadi secara ringkas tarbiyah islamiyah adalah proses penyiapan manusia yang saleh, yakni agar tercipta suatu keseimbangan dalam potensi, tujuan, ucapan, dan tindakannya secara keseluruhan. Keseimbangan potensi yang dimaksud adalah hendaknya jangan sampai kemunculan potensi menyebabkan lenyapnya potensi yang lain atau suatu potensi sengaja dimandulkan agar muncul potensi yang lain.
Juga keseimbangan antara potensi ruhani, jasmani, dan akal pikiran, keseimbangan antara kebutuhan primer dan sekundernya, antara cita-cita dan realitasnya, antara jiwa ambisi pribadi dan jiwa kebersamaannya, antara keyakinan kepada alam ghaib dan keyakinan pada alam kasat mata, keseimbangan antara makan, minum, pakaian, dan tempat tinggalnya, tanpa adanya sikap berlebih-lebihan si satu sisi dan pengabaian di sisi yang lain. Benar-benar keseimbangan yang mengantarkan pada sikap yang adil dalam segala hal.

TUJUAN TARBIYAH ISLAMIYAH
Secara umum terbiyah islamiyah bertujuan membentuk manusia yang hanya beribadah kepada Allah SWT dan memakmurkan bumi hanya dengan aturan-aturan Allah baik yang berupa wahyu atau pun sunatullah, sehingga lahir suasana kehidupan yang islami di bumi ini.
Dalam rangka mewujudkan hal tersebut dijabarkan dalam tiga tujuan utama dari tarbiyah islamiyah, yaitu:
1. Terbentuknya Tashawur (persepsi) Islami yang jelas.
Islam sebagai din, sebagai pedoman hidup dari Allah SW mencakup seluruh aspek kehidupan dan perilaku untuk seluruh zaman dan ummat manusia. Ketidakmenyeluruhan persepsi terhadap Islam akan mengakibatkan Islam terisolasi dari pentas kehidupan, juga menjadi sumber bid’ah, khurafat, takhayul, dan tradisi jahiliyah serta berbagai kontradiksi. Bahaya persepsi yang parsial (Juz’I) dijelaskan dalam firman Allah Q.S. Al Baqarah:85 sedangkan kejelasan dan keuniversalan Islam terlihat pada firman Allah Q.S. An-Nisaa’:89.
2. Membentuk Syakhsiyah Islamiyah (pribadi yang Islami)
Pribadi yang Islami adalah pribadi yang menjadikan nilai-nilai Islam sebagai bahan utama pembentuk kepribadiannya, sehingga identitas dirinya benar-benar mencerminkan keislamannya.
Komponen dasar bagi terbentuknya kepribadian seseorang adalah keyakinan, pendirian, perasaan, pemikiran, watak, performa, dan perilaku. Dan akidah islamiyah adalah dasar pembentukan dari semua komponen tersebut.
Tarbiyah ilamiyah diharapkan menghasilkan buah yang baik. Buah yang diharapkan dari pembinaan islami (tarbiyah islamiyah) adalah terciptanya sosok pribadi Muslim yang ideal, pribadi muslim yang kaffah. Yaitu pribadi muslim yang mengimplemetasikan nilai-nilai Islam secara keseluruhan, tidak hanya bagian per bagian.
Beberapa deskripsi tentang pribadi muslim yang kaffah yang harus diketahui oleh seorang muslim, antara lain:
1. Lurus aqidahnya
Kelurusan akidah merupakan pokok terpenting bagi pribadi muslim. Demikian pula yang dilakukan Rasulullah SAW pertama kali dapat ditelusuri bahwa ayat-ayat Al Qur’an Makiyyah turun selama 13 tahun yang menjelaskan kalimat Laailaaha illallah. Yang demikian itu karena din ini seluruhnya tegak di atas kalimat Laa ilaaha illallah. Memahamkan pada manusia bukan membuat tertarik pada cabang-cabang Islam saja, namun dengan pemahaman akidah dalam hati mereka yang kemudian secara otomatis akan melaksanakan segala syariatnya.
2. Benar Ibadahnya
Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah SWT, baik berupa perkataan, kepasrahan, dan ketundukan yang sempurna serta membebaskan diri dari segala yang bertentangan. Dengan demikian serang muslim harus paham bahwa ibadah kepada Allah merupakan kebutuhan dan kepentingan manusia, baik ibadah khusus (khashah), shalat, puasa, zakat, dsb. Ataupun ibadah umum (ammah), menuntuk ilmu, jual beli, dsb. Seorang muslim dalam beribadah haruslah benar yaitu niat ikhlas karena Allah dan berdasar atas syariat Islam.
3. Terpuji Akhlaknya
Islam mengatur dalam segala aspek dari mulai bangun tidur smpai pada pagi berikutnya. Sehingga gerak langkah seorang muslim senantiasa indah karena mengikuti irama kehidupan yang diatur oleh Allah SWT. Seorang muslim yang berakhlak membawa dampak tidak hanya pada dirinya sendiri tapi juga lingkungan sekitar. Sehingga nantinya akan tercipta umat yang berakhlak mulia. Kesempurnaan iman seseorang dapat dilihat dari kualitas akhlaknya.
4. Berwawasan Luas
Wawasan disini bermaksud senantiasa memikirkan sesuatu yang membangun, memperbaiki bukan membuat hal yang tidak berguna, dan menjauhkan diri dari sifat yang merendahkan. Karena pentingnya berwawasan luas inilah maka setiap muslim diwajibkan untuk senantiasa menuntut ilmu, baik ilmu keagamaan maupun ilmi-ilmu alam dan ilmu yang lainnya.
5. Kuat Fisiknya
Rasulullah bersabda “ Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah pada keduanya ada kebajikan” (HR. Muslim)
Rasulullah telah menegaskan pentingnya pembentukan badan yang sehat dan menjaga dari berbagai penyakit. Kewajiban dan tanggung jawab pribadi muslim ideal tidak akan terlaksana dengan baik tanpa adanya badan/fisik yang sehat.

Maraji’:
- Urgensi Tarbiyah Islamiyah. Drs. Abu Ridho
- Tarbiyah Rasulullah. Najib Khalid Al Amir.
- Buku Panduan Asistensi Agama Islam UNS

Sumber: http://harokah.blogspot.com

07/11/08

10 Wasiat Imam Hasan Al Banna


1. Bangunlah segera untuk melakukan Sholat apabila mendengar adzan walau bagaimanapun keadaannya.
2. Baca, Telaah dan dengarkan Al-quran atau dzikirlah kepada ALLAH dan janganlah engkau menghambur-hamburkan waktumu dalam masalah yang tidak ada manfaatnya.
3. Bersungguh-sungguhlah untuk bisa berbicara dalam bahasa arab dengan fasih.
4. Jangan memperbanyak perdebatan dalam berbagai bidang pembicaraan sebab hal ini semata-mata tidak akan mendatangkan kebaikan.

1. Bangunlah segera untuk melakukan Sholat apabila mendengar adzan walau bagaimanapun keadaannya.
2. Baca, Telaah dan dengarkan Al-quran atau dzikirlah kepada ALLAH dan janganlah engkau menghambur-hamburkan waktumu dalam masalah yang tidak ada manfaatnya.
3. Bersungguh-sungguhlah untuk bisa berbicara dalam bahasa arab dengan fasih.
4. Jangan memperbanyak perdebatan dalam berbagai bidang pembicaraan sebab hal ini semata-mata tidak akan mendatangkan kebaikan.
5. Jangan banyak tertawa sebab hati yang selalu berkomunikasi dengan ALLAH (dzikir adalah tenang dan tentram).
6. Jangan bergurau karena umat yang berjihad tidak berbuat kecuali dengan bersungguh-sungguh terus-menerus.
7. Jangan mengeraskan suara di atas suara yang diperlukan pendengar, karena hal ini akan mengganggu dan menyakiti.
8. Jauhilah dari membicarakan kejelekan orang lain atau melukainya dalam bentuk apapun dan jangan berbicara kecuali yang baik.
9. Berta’aruflah dengan saudaramu yang kalian temui walaupun dia tidak meminta, sebab prinsip da’wah kita adalah cinta dan ta’awun (kerja sama).
10. Pekerjaan rumah kita sebenarnya lebih bertumpuk dari pada waktu yang tersedia, maka tolonglah selain itu untuk memanfaatkan waktunya dan apabila kalian mempunyai sesuatu keperluan maka sederhanakanlah dan percepatlah untuk diselesaikan.

maqolat

More Article »

Popular Posts

 
Copyright © 2011. sakola agama . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template modify by Creating Website. Inspired from CBS News