Headlines :
1 2 3 4 5

tarbiyah

More Article »
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

05/01/09

Saat sakaratul maut menghampiri Nabi saw.

Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba."Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Bismillahirrahmannirahiim Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang
Detik-detik Rasullah SAW menjelang sakratul maut.Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.
Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Al Qur'an dan Sunnah. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba."Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.
Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi.
"Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah beradadidalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya malaikat Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."Lirih Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
" Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.
"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii, ummatii, ummatiii?"
Sepenggal kisah diatas menggambarkan disaat Rasul menjelang ajalnya, beliau masih memikirkan umat ketimbang dirinya sendiri...dan ALLAH menjanjikan kepada setiap Nabi dan Rasulnya suatu doa yang pasti dikabulkan...semua nabi dan rasul menggunakan doa tersebut utk mendapatkan karomah dan berkah dari ALLAH SWT kepada diri dan keluarganya..namun pada saat ALLAH bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai apa keinginan dan doa nabi SAW kepadanya..dengan penuh keikhlasan Nabi menjawab..jika engaku mengizinkan ya ALLAH..maka aku simpan doa ini utk mendoakan umatku agar engkau mengampuni mereka ya ALLAH...betapa cinta Rasul SAW kepada umatnya, kepada kita...namun bisakah kita memberikan kasih sayang dan cinta kepada ALLAH dan Rasulnya?...semoga..kita mampu memberikan salam dan shalawat kepada Rasul SAW...


21/12/08

Renungan seorang Akh....


"Akh, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam da'wah. Tapi
belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana
melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh."Begitu keluh
kesah seorang mad'u kepada seorang murobbinya di suatu malam. Sang
murobbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam
diri mad'unya.


"Akh, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam da'wah. Tapi
belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana
melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh."Begitu keluh
kesah seorang mad'u kepada seorang murobbinya di suatu malam. Sang
murobbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam
diri mad'unya.

"lalu apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu ? "
sahut sang murobbi setelah sesaat termenung.
" Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa
dengan prilaku beberapa ikhwah yang justru tidak Islami. Juga dengan
organisasi dakwah yang Ana geluti; kaku dan sering mematikan potensi
anggota-anggotanya. Bila begini terus, Ana mendingan sendiri saja."
Jawab mad'u itu.
Sang murobbi termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari
roman di wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan
jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal. " Akhi, bila suatu
kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu
ternyata sudah sangat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya
banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa
yang akan antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?". Tanya sang
murobbi dengan kiasan bermakna dalam. Sang mad'u terdiam dan
berfikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam
melalui kiasan yang amat tepat. " Apakah antum memilih untuk terjun
kelaut dan berenang sampai tujuan?". Sang murobi mencoba memberi
opsi. "Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang.
Bebas dari bau kotoran manusia, merasa kesegaran air laut, atau
bebas bermain dengan ikan lumba-lumba . tapi itu hanya sesaat.
Berapa kekuatan antum untuk berenang hingga tujuan?. Bagaimana bila
ikan hiu datang. Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam
datang, bagaimanan antum mengatasi hawa dingin?" serentetan
pertanyaan dihamparkan dihadapan sang mad'u. Tak ayal, sang mad'u
menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan
sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang murobbi yang
dihormati justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan
keinginannya.
"Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan
yang paling utama menuju ridho Allah?
" Bagaimana bila ternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh
jalan itu ternyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan
mobil itu tergeletak dijalan, atau mencoba memperbaikinya? . Tanya
sang murobbi lagi.
Sang mad'u tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya. Tiba-
tiba ia mengangkat tangannya:"Cukup akhi, cukup. Ana sadar.. maafkan
Ana…. ana akan tetap Istiqomah. Ana berdakwah bukan untuk
mendapatkan medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana
diperhatikan… " .
Biarlah yang lain dengan urusan pribadinya masing-masing. Biarlah
ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya Allah saja yang akan
membahagiakan ana kelak dengan janji-janji- Nya. Biarlah segala
kepedihan yang ana rasakan menjadi pelebur dosa-dosa ana". Sang
mad'u berazzam dihadapan sang murobbi yang semakin dihormatinya.
Sang murobbi tersenyum "Akhi, jama'ah ini adalah jamaah manusia.
Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi
dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka
miliki . Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah
untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi
manusia terbaik pilihan Allah." "Bila ada satu dua kelemahan dan
kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum.
Sebagaimana Allah ta'ala menghapus dosa manusia dengan amal baik
mereka, hapuslah kesalahan mereka dimata antum dengan kebaikan-
kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata Allah,
belum tentu antum lebih baik dari mereka."
"Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah
jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu
disikapi dengan jalan itu , maka kapankah dakwah ini dapat berjalan
dengan baik?" sambungnya panjang lebar. "Kita bukan sekedar pengamat
yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding
sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafirpun bisa melakukannya.
Tapi kita adalah da'i. kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi
amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi.
Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin
memperuncing masalah.
"Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api.
Bara yang tadinya kecil.tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala
api yang yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!" "Bekerjalah
dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih
sayang kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu.
Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada isyu
atau gosip tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan
segala ghil antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah,
Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya. "
Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraaan melebar
dengan akrabnya. Tak terasa, kokok ayam jantan memecah suasana. Sang
mad'u bergegas mengambil wudhu untuk berqiyamu lail. Malam itu. Sang
mad'u sibuk membangunkan mad'u yang lain dari asyik tidurnya.
Malam itu sang mad'u menyadari kesalahannya. Ia bertekad untuk tetap
berputar bersama jama'ah dalam mengarungi jalan dakwah. Pencerahan
diperolehnya. Demikian yang kami harapkan dari antum sekalian…

… Semoga bermanfaat

maqolat

More Article »

Popular Posts

 
Copyright © 2011. sakola agama: Refleksi . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template modify by Creating Website. Inspired from CBS News